Otomania / Tes

Performa Mesin Flat Boxer di BMW R Nine T

Otomania/Setyo Adi Tes Ride BMW R Nine T

Jakarta, Otomania – BMW R Nine T diperkenalkan pertama kali di tahun 2014. Sejak itu motor yang diproduksi langsung di pabrik BMW di Berlin, terus menerima permintaan pesanan dari seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Menggunakan mesin flat boxer 1.170 cc DOHC dua silinder, tenaga yang dihasilkan mencapai 110 tk di putaran 7.550 rpm. Torsinya juga tidak kalah gahar, 119 Nm di putaran 6.000 rpm.

Mesin tersebut dipadukan dengan penggunaan teknologi gardan pengganti rantai untuk menggerakkan ban belakang. BMW menyebutnya Paralever yang berfungsi juga sebagai transmisi mengalirkan tenaga untuk menggerakkan motor.

Meski tidak menggunakan rantai, Paralever ini tidak mengurangi sensasi berkendara R nine T yang memiliki 6 gigi transmisi. Entakan tenaga juga engine break terasa meyakinkan berkat teknologi ini saat Otomania gunakan di jalanan kota Jakarta.

Bicara soal performa mesin, meski dengan kubikasi yang besar, motor ini tidak terlalu galak di putaran awal. Justru saat putaran atas, tenaga mesin lebih terasa melonjak memberikan dorongan pada motor. Dri diam hingga meluncur 100 kpj hanya beberapa detik saja. Sayangnya sensasi ini jarang didapatkan pada jalanan Jakarta.

Otomania/Setyo Adi Tes Ride BMW R Nine T

Pada saat kondisi kemacetan, tidak terlalu sulit untuk menjaga putaran bawah mesin, hal yang diperlukan untuk menghadapi situasi kemacetan. Tuas kopling pun cukup bersahabat untuk menjaga mesin bekerja dalam kecepatan lamban.

Model mesin flat boxer memang cukup unik dengan mesin yang mencuat di sisi kanan dan kiri motor. Lewat mesin ini, BMW memikirkan fungsi untuk menjaga kestabilan saat manuver dengan motor ini di jalan.

Suara mesin boxer ini juga cukup bersahabat untuk situasi sekitar. Tidak terlalu keras seperti mesin moge lainnya saat baru dinyalakan. Ini karena penggunaan knalpot dual pipe hasil desain Akraprovic yang disesuaikan standar emisi suara untuk negara Eropa. Suara galak baru terdengar saat kendaraan gas dibuka dengan putaran mesin diatar 6.000 rpm.

Penggunaan suspensi up side down (USD) berdiameter 46 mm dan monoshock di belakang cukup memberikan kenyamanan saat berkendara. Suspensi belakang ini dapat diatur secara manual gerak baliknya (rebound) agar sesuai dengan karakter berkendara di beragam kondisi jalan. 

BMW menyertakan fitur pengereman ABS pada ban depan dan belakang motor ini. Roda depan menggunakan dua cakram kembar berdiameter 320 mm dengan kaliper empat piston sedankan bagian belakang menggunakan satu cakram berdiameter 265 mm yang cukup menghentikan laju sepeda motor ini dengan aman. 

Otomania/Setyo Adi Tes Ride BMW R Nine T

Penulis: Setyo Adi Nugroho
Editor : Azwar Ferdian

Komentar

Terkini Lainnya

Now Trending